The Cribs

Jangan Dipandangi, Rasakanlah. . . . !

Katanya, “Kasihan Polisi ! ! !”

Posted by eby1 on Agustus 18, 2008

Saya malah balik bertanya, apakah polisi ada rasa kasihan dengan orang susah yang perlu bantuan?

Saya pernah berbincang banyak dengan salah seorang dosen di kampus  tempat saya kuliah. Kebetulan dosen itu juga mengajar di sebuah sekolah kepolisian. Dia banyak cerita tentang kehidupan dan lika-liku polisi yang serba salah. Singkatnya polisi itu mendapat tekanan atas dan bawah. Ditekan dari atasan dan ditekan dari rakyat. Kenapa begitu?

Kasus sederhana sewaktu kepolisian mau mengadakan razia kendaraan bermotor. Perintah tentunya langsung turun dari atasan, sebutlah Kasatlantas. Ironisnya mereka yang menjalankan perintah itu tidak mendapatkan dana operasional untuk membiayai bensin kendaraan, dan tetek bengek.

Saya kaget mendengarnya, lalu bagaimana bisa?

Dana kepolisian sangatlah minim, biasanya dana itu habis untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan biaya tahanan. Biaya terbesar kedua adalah untuk kebutuhan mendadak, seperti adanya upacara atau acara seremoni lainnya. Memang sangat aneh sekali, tapi itu faktanya.

Satu-satu jalan adalah yang patroli harus bermain ‘bersih’ dengan bayar di tempat setiap pengendara yang ditilang. Tidak semua pengendara yang ditilang akan mudah damai. Mereka yang bertampang muda dan dan berwajah bodohlah yang akan selamat dengan ‘dana damai’.

Biasanya paling tidak ‘dana damai’ tilang berkisar 20 ribu sampai 50 ribu, tergantung motornya. Kalau motornya mulus, tentu tawar menawar akan berlangsung lama. Namun semakin butut motor, penawaran akan berlangsung cepat.

‘Uang haram’ hasil tilangan itu biasanya tidak langsung dieksekusi. Hasilnya akan dibagi menurut keperluan. Sekitar 50% akan ‘ditabung’ ke dana operasional kepolisian, 20% akan dipakai untuk biaya bensin dan keperluan patroli, 20% sebagai jatah pimpinan dan sisanya 10% akan dibagikan kepada petugas patroli.

See . . . . ! ! ! 

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Polisi: ‘Kami Siap Mengerjai Anda’

Posted by eby1 on Agustus 18, 2008

Sabtu kemarin saya ngepos di Polres Utara. Pagi sekali saya datang, kira-kira jam 9. Jam 12-an Silet datang, saya pun dapat teman ngobrol.

Kira-kira jam 1 ada 3 orang berpenampilan lusuh datang menanyakan tempat membuat surat jalan. Saya pun menyuruh dia bertanya ke bagian informasi. Dengan wajah tak tahu apa-apa, mereka jalan.

“Mau apa?,” ujar kasar salah seorang polisi. Saya terkejut dengan nada bicara polisi itu. Sangat tidak pantas dengan motto ‘Kami Siap Melayani Anda’ di setiap kantor polisi. Saya terus mendengar percakapan mereka karena jarak saya tak begitu jauh dengan ruang informasi.

3 orang itu terus diintrogasi layaknya seorang penjahat. “Memang mau ke mana kalian? Orang nggak punya apa-apa kok pergi,” ceramah polisi pasang muka sangar itu.

Kurang lebih 1 jam diceramahi, polisi yang ‘banyak omong’ itu menyuruh mereka ke Polsek Penjaringan untuk mengurus surat jalan. Dengan wajah lusuh dan senyuman terpaksa, mereka pergi.

Imam, salah seorang dari mereka saya tanya, “mau ke mana?”. Katanya mereka mau pulang kampung ke Tegal. Kata teman-temannya, supaya terjamin di jalan dia sebaiknya membuat durat jalan di kantor polisi. “Ya udah saya ke sini,” ujarnya.

Mereka pun langsung bergegas ke Polsek Penjaringan. Selang 30 menit, mereka kembali.
“Gimana ada,” tanya perugas jaga berbaju Provos.
“Katanya di sini pak buatnya,” jawab Imam, bapak tua berambut putih.

“Ya sudah tunggu dulu di luar, saya tanya dulu,” suruh Provos itu.

Imam dan kawan-kawan pun menunggu di luar. Mereka bekerja di pelabuhan Tanjung Priok sebagai buruh serabutan. Apa saja di kerjakan. Imam punya istri dan 3 anak di Tegal. Sedangkan temannya, Udin dan jaka hanya menumpang di kontrakan Imam di Muara Angke.

“Hey ngapain duduk di luar di depan pintu. Malu-maluin aja, ayo masuk,” bentak sang Provos.

“Kalian itu, manusia apa bukan sih,” kata polisi yang menyuruh mereka ke Polsek Penjaringan.

Di dalam mereka kembali di ceramahi, soal apa saya tak tahu jelas. Yang pasti sangat kasar sekali perkataan polisi itu.

Akhirnya mereka mendapatkan surat jalan yang seharusnya bisa di keluarkan di Polres Jakarta Utara. “Trimakasih,” ujar Imam.

Sungguh malang, mereka ! ! ! !

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Hots, Maapin Gue

Posted by eby1 on Agustus 17, 2008

ebybil.JPGRasa bersalah luar biasa menyelimuti saya akhir-akhir ini. Semenjak saya jadi korlip dari minggu lalu, beberapa  kesalahan terjadi. memang semua hal yang teknis sekali. Tapi ada yang bilang itu, fatal. Tapi saya nggak akan menyerah, kesalahan adalah awal dari keberhasilan. “Ayo En, kasih gue kepercayaan lagi.”

Posted in Uncategorized | No Comments »

Ngantuk Banget

Posted by eby1 on Agustus 16, 2008

Pagi-pagi udah nongkrong di Polres Utara. Ehm. . . ngantuk banget. Bagaimana ini, ngantuk sekali.

Posted in Uncategorized | No Comments »

Ingin Menulis Sekali Lagi

Posted by eby1 on Agustus 13, 2008

ebybil.JPGBanyak sekali yang ingin saya tumpahkan. Tentang cinta, persahabatan, karir, sampai orde baru yang kembali menghantui kampus. Tapi saya tak ada waktu untuk itu, semua serba ‘detik’. tapi suatu hari ingin saya tumpahkan semua di sini. saya ingin sekali berbagi kepada orang-orang bodoh yang tak tahu apa-apa tentang apa yang sedang menghantui mereka. Saya bersamamu orang-orang malang, saya ada di sisi untuk kalian yang meminta belaskasihan kepada kapitalisme kampus.

Saya sudah pergi dari kalian. Tapi ada yang masih hinggap di benak ini, “perjuangan menggapai mimpi.”

Posted in Uncategorized | No Comments »

Selesai. . . . ! ! ! !

Posted by eby1 on Agustus 13, 2008

ebycam.JPGSemua udah selesai, skripsi sudah. Semua sudah. . . . ! ! ! !

Apa yang harus saya lakukan? Tentunya bergelut di dunia jurnalistik. “.  . . dan detikcom  menjadi tempar kesekian dari pengalaman ini. Namun jadi pengalaman pertama setelah saya meninggalkan status mahasiswa.

Posted in Uncategorized | No Comments »

Abis Deh Gue ! ! !

Posted by eby1 on Agustus 6, 2008

Sidang baru saja selesai, dua kata, “abis deh gue.”

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Soal Skripsi Saya

Posted by eby1 on Agustus 4, 2008

eby2.jpgMeneliti soal berita rubrik detikhot memberikan kesan dan pelajaran berharga bagi saya. Karena bicara soal berita detikhot tidak akan terlepas dari bayang-bayang tentang wartawan infotainment dan wartawan hiburan. Keduanya dianggap berbeda oleh kalangan wartawan karena imej infotainment yang buruk di mata masyarakat luas. Sebutan wartawan infotainment biasanya untuk wartawan televisi, sedangkan wartawan hiburan untuk wartawan media cetak.

Mengapa begitu?, hal seperti ini pernah saya perbincangkan dengan beberapa wartawan ketika saya mencari juri untuk uji kategori. Saya sempat berkenalan dengan wartawan program acara Silet di RCTI. Menurutnya anggapan miring diakuinya juga terjadi pada Silet, dan itu berlaku pada wartawan infotainment keseluruhan ini pantas didapatkan oleh wartawan infotainment, lanjutnya. Teknik reportase seorang wartawan infotainment (WI) memang dirasa tidak memakai kaidah-kaidah kejurnalistikan. Terkadang hal-hal manusiawi tidak dipakai dalam mengumpulkan data dan membuat narasi dalam pemberitaan. Subjektifitas sangat melekat dalam pemberitaan wartawan infotainment, sehingga sering kali berita tersebut akrab disebut gossip. Kata itulah yang semakin menguatkan kalau wartawan infotainment bukan sebagai wartawan.

Lain hal dengan apa yang dikatakan seorang wartawan Gospot yang tak ingin disebutkan namanya. Dia mengatakan wartawan infotainment itu sama saja dengan wartawan lainnya. Sebutan wartawan infotainment hanya menjadi sebuah identitas jenis berita. Perbedaannya pun hanya teknis saja target narasumbernya adalah orang-orang terkenal yang berhubungan dengan dunia hiburan. Katanya, tidak selalu efek dari pemberitaan infotainment itu negatif. 

Infotainment juga mengurangi pengangguran, katanya. Lho kok bisa? Ini menarik saya untuk terus membahas soal fenomena popularitas di kalangan masyarakat. Popularitas seorang menjadi Tuhan baru di jagad dunia hiburan. Lihatlah AFI Indosiar, Star Dut, Indonesian Idol, dan ajang pencarian bakat lainnya. Fenomena infotainment menciptakan cita-cita baru dikalangan anak muda masa kini. Mereka yang terlahir pada era 80-an ke atas yang sekarang beranjak dewasa mempunyai cita-cita baru, yaitu sebagai Selebritis. Ini menunjukkan kalau infotainment akan terus bertahan dan menciptakan fenomena baru yaitu terbentuknya masyarakat anti susah karena kepalanya hanya berisi soal popularitas dan hura-hura semata.

Balik lagi ke pembahasan awal. Jurnalis media cetak enggan disebut sebagai bagian dari wartawan infotainment, mereka lebih senang jika disebut sebagai wartawan hiburan. Kembali ke imej negatif sebutan infotainment, mereka enggan disamakan dengan wartawan seperti wartawan Silet. Lia, salah seorang wartawan media cetak mengunggapkan alasannya. Rupanya ini terkait dengan penyajian berita dan teknik pencarian berita. Jika dilihat dalam pencarian berita, wartawan media cetak lebih mengikuti prosedur kaidah kejurnalistikan. Misalnya ketika si narasumber tidak mau diwawancara, mereka tidak akan terus memaksa menyodorkan mic ataupun tape recorder. Namun kalau wartawan infotainment kerap memaksa hingga kesal.

Dilihat dari penyajian beritanya, wartawan media cetak termasuk online lebih mengedepankan unsur objektivitas dari tulisannya, kata-katanya pun tidak dipaksakan ke hal-hal yang sifatnya kontroversi. Isi beritanya pun tidak terlalu bergosip. Apa pun anggapan tentang infotainment, balik lagi kepada siapa yang menganggapnya. Dan ini berarti berakar kepada background si wartawan dan doktrin apa yang diberikan kepadanya saat masih kuliah. Lihat saja Indonusa EsaUnggul, mahasiswanya secara tidak tertulis dilarang keras magang menjadi wartwan hiburan atau infotainment. Mengapa tak bisa? bukankah itu menjadi duri di kalangan mahasiswa yang ingin mencari pengalaman lebih? Sangat tidak adil.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Datang dengan Kabar Buruk

Posted by eby1 on Agustus 4, 2008

Saya kembali ke kampus untuk menguasai ‘medan pertempuran’ Rabu mendatang. Entah mengapa perasaannya campur aduk, ada perasaan bangga, takut, bahkan sedih.

Rasa bangga datang karena saya ingin selesai pendidikan Jurnalistik. Takut karena sedikit lagi akan sidang skripsi, dan sedih karena akan meninggalkan sahabat-sahabat di kampus.

Baru saja datang saya sudah disodorkan dengan Suara Kami, bagaimana selajutnya? Salah satu reporternya mempertanyakan nasib media yang saya bentuk itu. Sebagai Pemimpin Redaksi saya tak ingin ambil pusing, karena jawaban ada di tangan mereka. Namun mereka saya yang masih banyak teori. Saya ingin mengajarkan hukum rimba sama mereka.

Tak lama cerita soal kampus dan organisasi menghampiri. Saya mendengarnya dari salah seorang mahasiswa di bangku lobby. Biasa mereka mengeluhkan soal mahalnya harga kuliah, semua serba uang. Saya rasa mereka angkatan lama yang sudah hampir lulus. Namun sepertinya mereka terhalang oleh biaya kelulusan seperti bayar sidang, wisuda dan admistrasi lainnya. Kasihan mereka.

Soal organisasi saya dengar ada UKM yang sulit mencairkan uang kegiatan akhir jabatan. Ah saya tahu untuk apa uang itu, paling untuk dibagi-bagikan.

Posted in Uncategorized | No Comments »

Dua Kelemahan Skripsi Saya

Posted by eby1 on Agustus 4, 2008

Segudang rencana saya buat saat memasuki kampus, tentunnya segala sesuatu yang berhubungan dengan Skripsi. Apa ya? ehm mungkin hal yang dituju adalah mencari buku di perpustakaan. Bagaimana jadinya ya? mungkin saya akan menjadi orang kutu buku.

Buku yang harus dicari adalah buku-buku soal sampel penelitian dan teori persepsi. Saya rasa dalam pembahasan saya masih kurang kedua teori itu. Untuk sampel saya lemah di perhitungan survei, saya tidak pakai rumus. Begitu juga soal teori persepsi, ah pasrah saja lah.

Posted in Uncategorized | 2 Comments »